Sunday, November 13, 2011

Review: Oidipus Sang Raja

Penulis         : Sophokles
Penerjemah : Rendra
Penerbit       : Pustaka Jaya
Terbit           : 2009
Tebal            : 146 hlm


Buku drama? Oh tidak…langsung itu reaksi  yang keluar saat sekilas melihat isi buku ini. Tapi setelah membaca lembar pertama, lalu lembar kedua…eh kok akunya yang malah nggak bisa berhenti. Konfliknya seru, itu yang jadi alasan utama.

Oidipus Sang Raja, adalah sebuah drama berbentuk ode tentang bergenre Tragedi Yunani Kuno. Oidupus Raja Negeri Thebes adalah seorang pemimpin yang pandai, bertanggung jawab dan memperhatikan keberadaan rakyatnya. Menemui rakyatnya yang datang mengadu karena bencana tidak berkesudahan yang melanda negeri mereka, Oidupus menjawah kesah mereka dan berusaha mencarikan jalan keluar. Oidipus pernah memecahkan teka-teki Sphinx sehingga bisa menyelamatkan negara mereka, sehingga ia sekarang Raja Thebes, yang memerintah bersama sang permaisuri, Jocasta . Dan sang pendeta yang mewakili rakyat mengingatkan, sehendaknya begitulah pula ia dapat menyelamatkan negeri ini untuk kedua kalinya.


Oidipus pun mulai merunu kejadian mencari sebab musabab bencana yang menimpa negerinya.

"Baiklah! Akan kukejar jejaknya
dari mula pertama.
Akan kulunasi keadilan demi Dewa,
demi rakyat dan demi yang wafat.
Akan kaulihat aku memburu sang durjana
demi Apollo dan demi Thebes negeri kita."


Iapun mengutus Creon, adik iparnya untuk bertanya pada Dewa Apollo, dan akhirnya jawabanpun didapat: semua malapetaka terjadi akibat pembunuhan Laius, Raja Thebes terdahulu, yang belum terungkap  yang menurut kabar dibunuh oleh sekawanan penyamun. Maka Oidipus pun, di depan seluruh rakyat bersumpah akan menemukan pembunuhnya dan menghukum dengan mengasingkannya dari Thebes.

Penyelidikan dilakukan, didatangkanlah seorang Pendeta agung bernama Teirisias yang diduga mengetahui rahasia ini. Karena berbahayanya fakta yang ia ketahui, Teirisias menolak membeberkan jati diri sang pembunuh, namun karena sang raja mendesak, akhirnya ia mengatakan bahwa sang pembawa bencana atau pembunuh itu tidak lain adalah Oidipus sendiri. Marah meraja dan iapun menuduh sang pendeta bersekongkol dengan Creon untuk menggulingkan tahtanya.

Jocasta sang permaisuri yang dahulunya adalah istri Raja Thebes yang terbunuh ikut angkat bicara. Ia pun menenangkan Oidipus dan memberikan serentetan fakta. Bahwa dahulu suaminya mendengarkan Apollo bersabda bahwa ia akan dibunuh oleh puteranya sendiri. Namun menurut keterangan ia malah dibunuh oleh sekawanan penyamun. Lagipula puteranya mereka saat berumur tiga hari sudah dibuang ke hutan dengan dipaku kedua kakinya, jadi tidak mungkin Oidupuslah pembunuhnya.

Namun Oidipus tidak serta merta senang, ia justru menceritakan kisah pribadinya. Ia yang dulunya adalah putera mahkota kerajaan Corintha, seorang pemabuk mengejeknya mengatakan bahwa ia bukan putera raja, dan iapun melarikan diri.
Ia bertanya pada Apollpo dan justru mendapatkan nujuman bahwa ia akan membunuh ayahnya dan mengawini ibu kandungnya. Maka dari itulah ia semakin tidak ingin kembali ke Corintha. Dan malangnya saat berada di desa Pochis, persimpangan jalan menuju Delphi ia membunuh seorang laki-laki tua yang menaiki kereta yang menghadangnya.

Dan jika ia bukanlah putera kerajaan Corintha, maka ia putera siapa? Siapa ayah dan ibunya? Lalu siapa pembunuh Raja Thebes terdahulu, sekawanan penyamun atau dirinya?

Saksi kunci dihadirkan, dia adalah seorang gembala yang akhirnya mengungkap semuanya. Tragedi yang tidak terperikan, bahwa semua tuduhan itu adalah benar, bahwa ia, Oidipus Sang Raja telah membunuh ayah kandungnya, mengawini ibu kandungnya dan mendapatkan keturunan darinya.

Kini tak ada duka melebihi dukamu.
Tanpa ampun derita melanda dirimu,
Mengkhianati bahagiamu yang dulu.
O. Oidipus, alangkah malangnya sejarahmu!
Ayah dan anak satu perahu.
Ayah dan anak menancap bajak di sawah satu.
Wahai kenapa sawahnya diam saja?



Kesedihan, tragedi, menimpa, tapi Oidipus tidak melupakan sumpah yang justru 
harus ia. Ia menusuk kedua matanya hingga buta, dan meminta dirinya dibuang dari istana. Lalu bagaimana nasib istri yang juga sekaligus ibu kandungnya. Juga bagaimana nasib kedua anak perempuannya?


Tidak disangka, drama ini bisa membuat aku justru ketagihan dan tidak berhenti melahap lembar demi lembarnya. Apalagi puisi yang diterjemahkan sangat enak dibaca, rima yang terjaga, sehingga artinya tetap sampai dan keindahannya tetap elok terjaga. Salut untuk almarhum Rendra.

 

Sophokles (497/496/495 SM  406/205 SM) adalah seorang penulis Yunani Kuno yang telah menulis sebanyak 123 drama. Hanya 7 dramanya yang selamat dengan utuh. Sophokles adalah penulis kisahtragedi terbesar kedua dari 3 orang dalam kategori tersebut di Yunani Kuno, lainnya adalah Aeskhilusdan Euripides.

Oidipus Sang Raja (Yunani kuno: Οδίπους Τύραννος Oidipous Tyrannos), juga dikenal dengan judul Latinnya, Oedipus Rex, adalah drama tragedi Athena gubahan Sofokles. Drama ini pertama kali dipentaskan pada tahun 429 SM.[1] Dari tiga drama Thebes yang dibuat oleh Sofokles, drama ini adalah drama kedua yang dia buat, namun secara kronologis, drama ini adalah cerita pertama, diikuti oleh Oidipus di Kolonos dan Antigone. Selama berabad-abad, drama ini oleh banyak orang dianggap sebagai salah satu drama tragedi Yunani terbaik

Penting:
Review ini dibuat atas inisitaif rekan-rekan BBI untuk SavePustakaJaya yang berada diambang kebangkrutan. Pustaka Jaya banyak menerbitkan buku-buku klasik dari penulis dunia seperti Fyodor Dostoyevsky, Leo Tolstoy, Mark Twain, Ivan Turgenev dll. Yuk beli dan baca buku Pustaka Jaya sehingga karya-karya sastrawan besar dunia tetap bisa kita nikmati bersama. @nick.

2 comments:

  1. Keren Mbak!!! Love the review!!!

    ReplyDelete
  2. makasih ya...lagi masih belajar nih...koleksinya blom banyak :) jadi malu sama yang senior :)

    ReplyDelete